Berikut Tips Mengajarkan Anak Menggunakan Toilet

  • Whatsapp

Mengajari WC training terhadap si kecil memang perlu dijalankan oleh para orang tua. Cuma saja, butuh trik khusus supaya tak berimbas buruk kepada perkembangan si kecil.

Mengajari si kecil untuk memakai WC (WC training) dengan pas memang perlu trik khusus. Ayah semestinya mengenali kapan si kecil benar-benar siap untuk diajar WC training. Sikap memaksa dari orang tua dapat berimbas buruk bagi perkembangan si kecil. Apa lagi kekeliruan yang perlu dihindari? Berikut berita selengkapnya.

Read More

Kekeliruan orang tua dikala WC training

Mengajarkan si kecil untuk menggunakan WC sendiri atau WC training sangatlah penting. Anda tak perlu lagi kerepotan mengganti popoknya dikala sedang sibuk menjalankan kegiatan lainnya. Kecuali meringankan bobot Anda, kesanggupan menggunakan WC sendiri juga bisa berguna bagi si kecil pada masa akan datang dalam kehidupannya.

Mandi training merupakan pelaksanaan dikala si kecil belajar untuk membuang air kecil (BAK) dan membuang air besar (BAB) di WC sepantasnya orang dewasa. Pada tahap ini, si kecil diajar untuk tak lagi mengeluarkan air seni dan tinja pada popok. Kesanggupan menggunakan WC juga bermanfaat untuk mengenal apakah si kecil Anda tumbuh dengan normal atau tak.

Berikut sebagian kekeliruan yang tak jarang dijalankan orang tua.

1. Tak membiasakan

Tidak jarang orang tua cuma menjalankan WC training tapi tak ditiru dengan mengajari adat istiadat bertoilet. Hodges menuturkan, wajib orang tua bisa menjadwalkan si kecil untuk membuang air, seumpama sekitar tiap dua jam.

Supaya kesibukan di WC menjadi lebih menyenangkan bagi si kecil, orang tua bisa menyiapkan mainan kecil di WC sehingga mereka lebih berminat dan betah di WC hingga ‘urusan ke belakang’ selesai.

2. Terlalu dini

Tak ada waktu yang pasti kapan si kecil perlu diajar WC training. Melainkan, terlalu dini menjalankan WC training bisa berbahaya sebab si kecil berusia kurang dari tiga tahun biasanya belum mempunyai kesanggupan untuk memastikan kapan perlu pergi ke WC.

Hodges mengatakan, bagi si kecil berusia kurang dari tiga tahun, membendung membuang air akan mengakibatkan sebagian persoalan seperti mengompol dan menyusun kapasitas kandung kemih yang lebih kecil.

Ayah perlu melihat pertanda-pertanda kapan si kecil siap untuk mendapatkan WC training, antara lain dia telah mempunyai kesanggupan motorik yang bagus, sanggup paham istilah membuang air, sanggup mengatakan pada orang tua dikala hendak membuang air, dan sebagainya.

3. Pola makan kurang serat

Serat bukan cuma dibutuhkan oleh orang dewasa, tetapi juga si kecil. Serat diperlukan guna memperlancar pelaksanaan membuang airnya. Pelaksanaan membuang air yang lancar akan memudahkan kesibukan WC training. Jadi, pastikan si kecil makan cukup serat, seperti buah dan sayuran segar, kacang, beras coklat atau merah, dan bubur gandum.

4. Ambeien atau sulit WC training? Bedakan keduanya!

Lebih dari 30 persen si kecil umur 2 sampai 10 tahun mengalami wasir (sulit BAB). Melainkan, orang tua tak jarang kali tak menyadarinya lantaran gejalanya berbeda dengan orang dewasa.

Berdasarkan Hodges, ada perbedaan wasir pada si kecil-si kecil dan orang dewasa. Ambeien yang dimaksud yakni dikala kotoran si kecil pada rektum menekan kendung kemih sehingga mengakibatkan persoalan mengompol dan persoalan lainnya. Gejala dari wasir pada si kecil yakni kurang membuang air besar, membuang air besar tiba-tiba, membuang air besar di celana, dan sakit perut dengan karena yang tak terang.

5. Melalaikan infeksi

Infeksi saluran kemih mungkin saja terjadi pada si kecil, karenanya sebaiknya orang tua melihat pertanda-tandanya. Sakit dikala membuang air kecil, tak jarang bolak-balik ke kamar mandi, dan ada darah dalam air seni yakni gejalanya. Bila orang tua menemukannya, segeralah bawa si kecil ke dokter.

Mengajarkan si kecil memakai WC memang butuh kesabaran. Hari ini mungkin ia ingin mencontoh segala pelaksanaan WC training, tapi hal itu dapat saja berbeda pada keesokan harinya. Intinya, jangan memaksa bila memang si kecil tak ingin melaksanakannya. Bersabarlah sampai si kecil benar-benar terbiasa tanpa popoknya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *